BERSATULAH WAHAI PEMUDA, JUNJUNG TINGGI PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA, WUJUDKAN INTEGRASI UNTUK INDONESIA YANG SATU

Minggu, 13 Maret 2011

BAB 5 PERKEMBANGAN KELOMPOK DALAM MASY MULTIKULTURAL

BAB 5
PERKEMBANGAN KELOMPOK DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURAL

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman kebudayaan, baik suku, ras, bahasa, agama, jenis kelamin, dll. Keanekaragaman ini dijadikan suatu kekuatan bagi masyarakat Indonesia untuk mempertahankan kesatuan bangsa. Dengan adanya keanekaragaman ini, akan menimbulkan 2 hal, yaitu INTEGRASI dan KONFLIK.
Dalam suatu masyarakat majemuk akan terjadi integrasi apabila masyarakat tersebut saling menghargai, menerima kebudayaan luar. Tetapi lain halnya, apabila keanekaragaman tersebut lebih ditonjolkan oleh setiap daerah. Sehingga setiap daerah akan terjadi konflik yang berkepanjangan.

A. PERKEMBANGAN MASYARAKAT INDONESIA YANG MULTIKULTURAL
1. Kelompok sosial Berdasarkan Ras
Di indonesai terdapat 3 ras yaitu PAPUA MELANOSOID, MELAYU MONGOLOID dan VEDOID. ketig a ras tersebut dalam kehidupannya di Indonesia memiliki kedudukan yang sama, tidak ada yang di istimewakan ataupun diunggulkan, walaupun ada beberapa ras tersebut yang memiliki kelompok yang banyak.
Dari ketiga ras tersebut, ada dua ras yang hidup secara berdampingan, saling menghormati dan menghargai, yaitu PAPUA MELANOSOID dan MELAYU MONGOLOID. Tetapi lain halnya dengan VEDOID, ras tersebut belum bisa hidup secara berdampingan karena belum bisa menerima kebudayaan dari ras lain dan belum bisa membaur.
2. Kelompok Sosial Berdasarkan Bahasa
Setiap daerah memiliki bahasa yang berbeda-beda, bahkan disatu daerahpun bisa memilki lebih dari satu bahasa. Walaupun terdapat keanekaragaman bahasa, tetapi dapat menghasilkan bahasa kesatuan yaitu BAHASA INDONESIA. Hal ini bisa terjadi karena nenek moyang bangsa Indonesai satu rumpun yaitu AUSTRONESIA. Sehingga orang dari daerah lain tidak begitu susah untuk menerima dan mempelajari bahasa Indonesia. Perlu diketahui juga, bahwa bahasa Indonesia merupakan salah satu faktor pendorong integrasi nasional.
3. Kelompok Sosial Berdasarkan Suku Bangsa
Indonesia memiliki + 300 suku bangsa yang tersebar disegala penjuru dari sabang sampai merauke. Hal ini juga sependapat dengan M.A Jaspan bahwa Indonesia memiliki 366 suku bangsa.
Kebudayaan yang berbeda-beda antara suku bangsa terlihat dari pola dan gaya hidup. Contoh: suku badui lebih suka berpergian dengan jalan kaki tanpa alas kaki.

4. Kelompok Sosial berdasarkan Perbedaan Agama
Di indonesia ada 6 agama resmi yaitu hindu, budha, islam, katholik, protestan, dan konghucu. Selain ke 6 agama tersebut terdapat aliran-aliran kepercayaan, seperti animisme dan animisme. Semua agama dan aliran kepercayaan tersebut hidup secara berdampingan dan tidak ada agama yang di unggulkan, walaupun ada sebagian agama yang memiliki penganut paling banyak. Kehidupan dalam beragama dilindungi oleh UUD 45 dan pancasila. Jadi setiap orang berhak untuk memilih agamnya masing-masing dan beribadah sesuai dengan agamanya tersebut.
5. Kelompok Sosial Berdasarkan Perbedaan Gender
Gender dan jenis kelamin sangat berbeda, gender merupakan suatu peranan sedangkan jenis kelamin merupakan tanda fisik dari setiap individu. Pada zaman dulu, kedudukan wanita selalu di nomor duakan daripada pria. Tetapi sekarang kedudukan pria dengan wanita sama, semenjak adanya emansipasi wanita yang dirintis oleh RA Kartini.

B. KONSEKUENSI MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Di dalam suatu masyarakat majemuk, setiap individu dikelompokan secara horizontal dan vertikal. Tetapi pengelompokan tersebut tidak menggunakan kriteria. Sehingga beberapa orang yang berbeda suku dapat memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu. Dari pengelompok tersebut akan menghasilkan interseksi dan konsolidasi.

1. INTERSEKSI
Interseksi merupakan pertemuan keanggotaan suatu kelompok sosial yang berbeda baik dari segi bahasa, suku, agama dan lain-lain dalam suatu masyarakat majemuk.
Secara garis besar kelompok sosial dibagi dua:
a. Paguyuban (gemeinschaf)
Merupakan kehidupan bersama yang diikat oleh rasa cinta, bersifat alami dan kekal.
Contoh : kekeluargaan, kekerabatan
b. Petembayan (gesselschaf)
Merupakan kehidupan bersama yang bersifat kontrak, terbentuk berdasarkan status.
Contoh : organisasi, badan hukum dan lain-lain
Interseksi terbentuk melalui interaksi sosial dari individu-individu melelui sarana pergaulan dalam kebudayaan seperti, bahasa, kesenian, sekolah, pasar, dll.
Dengan adanya interseksi akan menghasilkan kelompok baru yang bersifat saling silang-menyilang.


Interseksi mempunyai akibat terhadap kemajemukan yaitu :
a. Meningkatkan solidaritas
Hal ini dapat terjadi karena individu dari suku, ras, agama, dll akan bergabung. Setiap individu menganggap wajar perbedaan tersebut dalam suatu kelompok ataupun pergaulan. Sehingga akan memperkuat hubungan antara individu tersebut.
b. Menimbulkan konflik
Hal ini dapat terjadi karena perbedaan yang dimiliki setiap individu lebih ditonjolkan/diperlihatkan.
Saluran interseksi di indonesia
a. Hubungan ekonomi
• Perdagangan
• Perindustrian
b. Hubungan sosial
• Perkawinan
• Pendidikan
c. Hubungan politik

2. KONSOLIDASI
Merupakan perbuatan yang memperteguh atau menguatkan suatu hubungan keanggotaan individu yang berbeda dalam suatu kelompok sosial melalui tumpang tindih. Sebagai contoh dalam suku melayu identik dengan agam islam, bali identik dengan agama hindu.
Konsolidasi mempunyai akibat terhadap kemajemukan yaitu:
 Integrasi
Konsolidasi dapat menjadi integrasi apabila penguatan tersebut mengedepankan nilai-nilai nasionalisme.
 Konflik
Konsolidasi dapat terjadi konflik apabila penguatan identitas hanya dalam batas-batas tertentu atau hanya suku tertentu dan suku lain disampingkan.
Contoh : didalam satu kelas terdapat murid-murid dari berbagai suku, tetapi semua murid beragama islam. Sehingga semua murid tersebut dimasukan dalam ras melayu.

3. MUTUAL AKULTURASI
Ini merupakan suatu sikap keterbukaan terhadap kebudayaan luar. Mutual akulturasi ini diawali dengan interseksi yang berjalan secara terus-menerus sehingga menimbulkan rasa saling menyukai kebudayaan lain dan secara sadar atau tidak mengikuti kebudayaan tersebut. Mutual akulturasi merupakan tahap awal terjadinya integrasi sosial.
Contoh: adanya rumah makan padang di setiap daerah.
 Pola pergaulan
 Pakaian

4. PRIMORDIALISME
Primordialisme merupakan paham atau ide dari anggota masyarakat yang mempunyai kecenderungan untuk berkelompok sehingga terbentuklah suku-suku baru.
Pengelompokan ini tidak hanya dalam bentuk suku saja, tetapi agama, pengetahuan ideologi.
Akibat primordialisme terhadap kebudayaan:
 Timbulnya sikap etnosentris, yaitu suatu sikap yang cenderung bersifat subjektif dalam memandang budaya lain, sehingga tidak mau menerima kebudayaan luar.
 Dapat melestarikan budaya kelompoknya atau jati diri masing-masing kelompok.
Faktor-faktor penyebab primordialisme
 Adanya sesuatu yang dianggap istimewa pada rasnya, suku bangsanya.
 Sikap ingin mempertahankan keutuhan kelompoknya dari ancaman luar.
 Adanya nilai-nilai yang dijunjung tinggi karena berkaitan dengan kepercayaan.

5. STEREOTIP ETNIS
Merupakan perilaku seseorang untuk mengidentifikasikan suku bangsanya.
Stereotip etnis dapat menyebabkan 2 hal
 Integrasi, stereotip dapat meningkatkan semangat patriotisme, rasa cinta tanah air, solidaritas, dan nasinalisme
 Konflik, apabila stereotip etnis ini hanya memberikan nilai positif kepada ingroup nya.

6. POLITIK ALIRAN (SEKTARIAN)
Sektarian merupakan konsekuensi dari bentuk-bentuk struktur sosial. Sektarian juga merupakan hasil dari primordialisme. Menurut Clifford Geertz golongan masyarakat jawa dibagi menjadi 3:
 Santri : golongan berpengetahuan dan beragama
 Priyayi : golongan pelajar, pamong praja dan berpendidikan
 Abangan : golongan di luar santri dan priyayi yang berpusat di pedesaan dengan pengalaman keagamaan campuran islam dan dinamisme.
Ketiga golongan tersebut memilki tujuan politik yang berbeda-beda.
Menurut Herbert Feith ada lima aliran politik di Indonesia :
 Pemikiran politik yang dipengaruhi oleh campuran hindu, tradisional jawa, islam serta barat ke dalam ideology komunis
 Nasionalisme radikal
 Sosialisme
 Islam
 Tradisional jawa

7. PLURALISMEE DAN NASIONALISME
Pluralisme merupakan suatu kemajemukan masyarakat yang memiliki beranekaragam kebudayaan.
Nasionalisme merupakan paham kebangsaan yang menjunjung tinggi integrasi.
Proses awal perkembangan nasionalisme di Indonesia dapat dilihat dari munculnya :
 Emansipasi wanita
 Boedi oetomo
 Jong java
 Sumpah pemuda
 Dll
Sebagai puncak munculnya nasionalisme adalah deklarasi sumpah pemuda. Ini merupakan tonggak integrasi sehingga akan mudah untuk meminimalisirkan konflik yang berbau SARA.

Dalam masyarakat majemuk terbagi dalam kelas-kelas sosial. Sehingga akan berdampak pada perbedaan perilaku setiap individu. Perbedaan perilaku tersebut menyangkut hal-hal sebagai berikut :
1. Perbedaan dalam berbusana dan perlangkapan rumah tangga
Menurut Ogburn dan Nimkoff, lapisan kelas bawah, menengah dan kelas atas mempunyai selera yang berbeda baik dalam hal pakaian, perlengkapan rumah tangga, jenis hiburan, makanan, kendaran, dll.
Orang kelas atas lebih menyukai bahan yang berkualitas tinggi, sedangkan orang kelas bawah hanya cukup membeli di pasar-pasar tradisional.

2. Perbedaan dalam pemakaian bahasa dan gaya bicara
Perbedaan dalam pemakaian bahasa ini, biasanya terjadi antara majikan dengan pembantunya, seperti panggilan pembantu kepada majikannya “Tuan, Juragan, Non, dll. Ini menandakan kedudukan yang tidak seimbang.
Perbedaan gaya bicara terjadi dalam hal pergaulan, biasanya dimasukan bahasa asing dalam percakapan. Misanya ayo kita support teman-teman kita. Penggunaan bahasa asing ini biasanya dipergunakan oleh kalangan setengah ke atas.
Adapula dalam bahasa jawa, percakapan dibagi menjadi 3
 Ngoko
 Ngoko alus
 Kromo inggil

3. Perbedaan dalam pola komunikasi nonverbal
Komunikasi nonverval ini biasanya dalam bentuk gerakan tubuh dan digunakan oleh kalangan atas. Misalnya sang raja, pemimpin, dll

4. Penyebutan gelar, pangkat, jabatan
Jabatan bisa diperoleh dengan usaha atau otomatis.
Gelar menunjukkan perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh : S.Pd., SH., DR., Prof., M.Si., Kapten., Kolonel., Deang., dll

5. Perbedaan seragam yang dipakai
Seragam merupakan suatu bentuk pengesahan terhadap status seseorang.
Seragam yang dimaksud tidak harus baju yang sama, tetapi gaya berpakaiannya.
Hal ini menunjukan stratifikasi sosial
Contoh : seorang kapten memakai pangkat yang beranekaragam dibanding colonel.

6. Perbedaan tipe dan letak tempat tinggal
Hal ini terjadi pada kelas atas, yang memilih rumah dengan struktur rumah yang mewah dan lokasi perumahan ditempat yang elite. Lain hal dengan golongan bawah, yang bertempat tinggal seadanya.

7. Perbedaan kegiatan rekreasi, olahraga, dan kegemaran
Golongan kelas atas dalam masa liburan akan berekreasi ke luar negeri, puncak, yang jelas tempat yang mewah. Begitu juga dengan olahraga dan kegemaran. Mereka berolahraga ditempat kebugaran dan memiliki kegemaran yang ternama.
Lain hal nya golongan kelas bawah, rekreasi, olahraga, kegemaran yang biasa saja.

8. Perbedaan selera makan
Orang kaya makan direstoran, golongan bawah makan di KL.
Orang kaya makan sozis, golongan bawah makan tempe.


C. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH YANG DITIMBULKAN OLEH KEANEKARAGAMAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
1. Asimilasi
Merupakan proses yang mana seseorang meninggalkan tradisi budaya mereka sendiri untuk menjadi bagian dari budaya yang berbeda.
2. Self-segregation (pemisahan diri)
Merupakan suatu kelompok mengasingkan diri dari kebudayaan mayoritas
3. Integrasi
Merupakan menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat.
4. Pluralisme
Suatu sikap untuk tetap melestarikan budaya masing-masing dan beradaptasi dengan masyarakat yang lebih besar tanpa ada rasa prasangka.

D. SIKAP KRITIS, TOLERANSI DAN EMPATI TERHADAP HUBUNGAN KEANEKARAGAMAN DAN PERUBAHAN SOSIAL
Sikap kritis yang harus dikembangkan dalam masyarakat yang beranekaragam
1. Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap norma-norma yang berbeda dalam suatu masyarakat
2. Meninggalkan sikap primordialisme
3. Menegakkan supremasi hokum
4. Mengembangkan rasa nasionalisme melalui penghayatan wawasan berbangsa dan bernegara
5. Menyelesaikan konflik dengan cara akomdatif (mediasi, kompromi, adjudukasi)
6. Mengembangkan kesadaran sosial dan menyadari peranan bagi setiap individu terutama para pemegang kekuasaan.
Tolerasi merupakan sikap menghargai perbedaan orang lain.
Empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa / mengidentifikasikan dirinya dengan perasaan/pikiran orang lain.

E. LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN SOSIAL BUDAYA MENUJU INTEGRASI
1. Mengembangkan konsensus
2. Mengembangkan peran struktur masyarakat
3. Upaya pemerintah menciptakan integrasi
• Melakukan pemindahan penduduk secara terprogram melalui transmigrasi
• Membuka daerah yang terisolir melalui pembangunan sarana tranportasi dan komunikasi
• Adanya otonomi daerah
• Pemerataan pendidikan
• Pemerataan pembangunan
• Mendirikan sarana kesehatan diberbagai daerah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar